Posts on Twitter:

Back in NOLA for a and we have a full house! 💯













EXCLUSIVE 30% off Code DDD30 Now UI Kit PRO Sketch will help you create a clean and simple website that is a perfect fit for today's flat design.










A great thought to remember from Chirryl-Lee, via 's latest questions for designers series. Such a crucial, yet simple piece of advice that plenty of people fail to consider.

“Design is not for me. Whatever I design is almost always for intended for someone else, so think about those people when you design, not yourself.” from “5 important things I’ve learned to do as a designer” by Guy Ligertwood.












Who's coming to UXPH 2018 tomorrow? If you see me @UXPH2018, say "Hi" and feel free to come chat about design. **Our official hashtag is Artwork by    







This practical roadmap by will help you pursue a professional career in / from day one




Finding it hard to think "outside the box" when it comes to creating a new for your website? Getting an end-user perspective can help you improve your design and help enhance .
















"Learning about these concepts and developing some basic UX and UI design skills will help not only people in software development and project management roles, but those in marketing, sales, and business management"



Posts on Tumblr:

I need something fantastic to read

designeour:

This Week’s Fresh Design Products: Vol. 36 https://designeour.tumblr.com/post/172923482913/designeour-this-weeks-fresh-design-products https://designeour.tumblr.com/post/173254093898/designeour-this-weeks-fresh-design-products https://designeour.tumblr.com/post/173588563230/designeour-this-weeks-fresh-design-products https://designeour.tumblr.com/post/173899546545/designeour-this-weeks-fresh-design-products

#17 - Part 3

Dua minggu menuju hari H beneran tobat pelajaran: tiap hari duduk syantik di tempat les, beneran dari pagi siang sore. Masih agak bandel sih, kayak, harusnya jadwal intensif masuk jam 8, gue masuk jam 10.

Hehe.

Tapi abis pembelajaran di kelas berakhir, gue tetep stay di tempat les, duduk di ruangan khusus TST - Tutorial Service Time - suatu program di bimbelku. Buku sakti dan kumpulan soal SBMPTN Wangsit udah kaya makanan sehari-hari, selain sate buah dan cimol dan cimin depan gedung. Kerjaan gue di sana, selain makan dan shalat, ya ngebahas soal bareng temen dan menciduki guru-guru favoritku buat diteror soal-soal. Gue pikir dengan jurus begitu dampaknya seribu kali lebih baik daripada duduk di kelas, malah ngantuk atau main hape.

Kemudian, ada suatu pagi dimana gue caw ke sekolah, terus pas di angkot diingetin mamah buat liat pengumuman PMDK-PN yang kuikuti waktu itu. Boro-boro inget sih gue, udah pasrah dan ngerasa kaya auto gak keterima karena salah input data. Tapi yasudalaya apa salahnya lihat.

Dan

hasilnya

.

.

.

MASUK.

D4 Teknik Telekomunikasi.

Menurut lo, gue jingkrak-jingkrak di angkot? Engga. Cuma senyum, feeling relieved karena akhirnya gue punya pegangan. Senang? Ya, tentu. Alhamdulillah. Meski ragu karena gatau dan gak kebayang samsek kuliah di sana bakal kaya gimana (apalagi setelah searching ada matkul matematika apa fisika terapan gitu (?)), tapi ada sesuatu yang kuyakini: bahwa rencana Allah selalu yang terbaik.

Terus sorenya kayak tumben banget, papah ngajakin kami sekeluarga makan-makan. Di tempat ngeramen lagi (which is papah anti banget karena beliau akan bilang “mie mulu” atau “jangan keseringan makan mie, tar panas dalem” and stuff).
“Ya gapapa, buat syukuran Salma udah dapet kuliahan,” ujar mamah saat kutanya kenapa demikian.

Darisitu gue mikir, wagelaseh apalagi kalo dapet lewat SBMPTN ya?

…and somehow, it motivated me to study and pray harder.

Dua minggu bukan waktu yang lama. Tiba-tiba aja udah H-5 SBMPTN. Tempat bimbel makin hari makin rame sama orang-orang yang tobat pelajaran kayak gua. Semua orang pada nanyain soal-soal SBMPTN yang mana gue udah suntuk dan bosen parah ngerjainnya, more like, udah gatau lagi harus gimana karena tipe soalnya emang butuh mikir keras, belum lagi sistem minus sehingga gabisa main tembak, dan yang paling utama, gue belum menentukan mau milih jurusan apa aja. Makanya, di saat orang lain sibuk bertanya soal SBMPTN, gue banting setir sibuk nanyain soal UTUL UGM hehehe karena emang tipe soalnya setingkat di bawah SBMPTN. Lagian, kalo buat UTUL UGM gue memang sudah fix bakal milih kedokteran semua.

H-3 SBMPTN. Masih belum finalisasi juga meski udah bayar. Kalo liat hasil try out memang untouchable sih FK Unpad itu. Nilai gua belom pernah menyentuh ambang passing gradenya samsek. Kata orang-orang, tempatkan impian terbesarmu di pilihan 1, kemudian impian yang kiranya bisa tercapai di pilihan 2, terus pilihan 3 nya impian realistis sesuai kemampuanmu.

Terus kalo impian gua FK semua, gimana?

Gue belum pernah melampaui passing grade jurusan yang gue inginkan. Pernah deng, ke Arsitektur Interior UI WKWKWKWK tapi duluuu banget waktu masih iseng milih jurusannya. Kan UI gak dibolehin ortu. Yang dibolehin tuh cuma kampus di daerah Bandung, Yogyakarta, dan Solo. Alasannya sih biar ada yang mantau karena banyak saudara di daerah-daerah ‘jajahan’ tersebut. Cita-cita sih antara Unpad, ITB, UGM, dan UNS.

Berat tjoy, ga akan kuat.

Tapi, gara-gara SNMPTN kemarin gak keterima,akhirnya papah luluh dan membolehkan aku kalau mau masuk FK UPN-VJ karena Jakarta lumayan deketlah sama saudara di Bekasi dan Tangerang.

Pencarian tujuan selama 3 hari pun terbilang tidak mudah. Soalnya, gue masih belum yakin sama kemampuan sendiri. Passing grade tertinggi cuma hampir menyentuh FK UPN-VJ, tapi kalo dinomorsatukan, gue bingung pilihan 2 dan 3 nya mau apa? Ilmu Gizi? Hmmm, pernah tertarik tapi udah ngga. Teknik Pangan? Hmmm, mikir lagi deh. Biologi? Ga kepikiran ntar kerja apa. Matematika? Biar belajar matem yang master dulu dan ikutan SBMPTN lagi di tahun berikutnya supaya matdas dan matipa nya ngisi? Cukup menarik.

Saya tidak bisa bohong kalau impian saya memang jadi dokter dan gak ada lagi. Saya mau fakultas kedokteran dimanapun universitasnya asal mengantarkan saya kepada impian saya

sebelum akhirnya entah kenapa tiba-tiba dapat ilham

bahwa

saya pengen masuk fakultas manapun asal di ITB.

….nahloh?

Ya mana saya tau. Tiba-tiba aja gitu. Mungkin faktor teman dekatku yang kebanyakan udah pada masuk ITB, atau beberapa kakak kelas yang kukenal udah menyandang gelar mahasiswa di sana. Atau gara-gara gantungan tasku? Atau akibat warna almamaternya yang unyu?

Tidak ada yang tahu. Terus dulu tuh istikharahnya “Ya Allah, saya mah ingin satu diantara dua berikut: FK di universitas manapun, atau fakultas manapun di ITB. Terserah Allah, saya cuman pengen dikasih yang terbaik yang bisa jadi jalan buat Salma banggain orang tua, bisa berguna buat masyarakat nanti, yang bawa kemaslahatan, yang bisa nganterin Salma ke surganya Allah. Aamiin.”

Sempet bertanya ke seorang konsultan, I was like,
“Pak, mau nanya”
“Ya?”
“Saya masih belum finalisasi, pak. Kalau pilihan 1 saya FK Unpad, pilihan 2 SF ITB, pilihan 3 FK UPN-VJ, boleh gak?”
“Hmm. Nilai TO kamu berapa?”
“Segini, pak” sambil menyodorkan rekap hasil try out terakhir dengan wajah tidak berdosa.
Beliau cuma senyum simpul yang… tidak dapat kuartikan? “Mending FK UPN-VJ aja pilihan pertama.”

Bodoamat pak pokoknya pilihan saya pengen gitu.

((yaterus kenapa nanya))

Malam harinya, masih belum finalisasi juga akutuh. Temen-temen pada udah. Lantas aku konsultasi untuk kesekian kalinya ke ortu. Mamaku be like “yaudah tiga-tiganya FK, kan kamu pengennya jadi dokter” and I was like, “pengen ada jurusan lain, takutnya kedokteran tuh bukan rezeki Salma”, and she was like, “Farmasi Unpad? Biologi UPI?”, and I was like “kalo farmasi gatau kenapa pengennya di ITB hehehe” and she was like

“ya udah
SF ITB pilihan ketiga”

s h o o k

Itu saran termengagetkan bagiku, karena, pas gue curhat ke salah seorang temen aja tentang pilihan SBMPTN gue dan menyatakan bahwa pilihan keduaku SF ITB, he was like “anjir ITB diduain”

….dan sekarang diketigain? Takut takabur w.

Setelah perdebatan yang lumayan panjang (lagi), akhirnya ortu menyerahkan otoritas pemilihan padaku. Yauda gaskuy seusai plan gue. Sambil membaca basmalah, gue cek lagi data diri dengan seksama, dan menetapkan pilihan, ridho lillahi ta’ala hasilnya mau kek apa. The thing is, lulus alhamdulilah (banget), gak juga gapapa, dah punya pegangan. 

Aku tenang,



sebelum kinap lagi gara-gara ga kebagian kuota panlok Bandung.