Posts on Twitter:

what can you do in under 5 mins?






Retweet Retweeted Like Liked









Tribute to done on the ipad pro. I don’t subscribe to any conspiracy theories but I respect a person who gives back to his community. . . Digital painting by . . . . .













Here's a WIP of something I'm working on. I've been getting better at drawing every day, and it's been great.









Show this thread




110/365 practicing some painting. I think I learned some color stuff doing this







Ce jeu ! Mon dieu, un jour je le finirai^^ A chaque fois je fais une petite pause, et j'oublie ou j'en suis, du coup ça part sur une nouvelle partie j'en suis à 5 fois déjà _____________________________















Posts on Tumblr:

Guy’s been put in charge.

@kickingcurly

Mr. Messy Hair

Kadang, kau hanya ingin berbincang santai ditemani kopi atau cokelat panas bersamanya. Tapi untuk sekarang, ini bakalan sulit. Karena kalian sedang berada dalam negara yag berbeda. Hanya selang dua jam sih. Tapi bagaimana cara menembus waktu, jika yang kau punya hanya hasrat?

Untuk sekarang yang paling masuk akal adalah berkirim pesan pendek. Benar-benar singkat pun tak apa bagimu. Karena sebuah tanggapan seperti apa pun kau sangat menghargainya.

Kesempatan-kesempatan seperti itulah yang kau tunggu setiap hari. Kau sudah melupakan harapan untuk bertemu, semenjak tahu dia tak lagi di Yogyakarta. Sebelumnya, kau berharap bertemu dengannya di antara setapak di tepi waduk. Kalian berlawanan arah kemudian berjumpa pada suatu titik lalu memutuskan bersama.

“Bersama?”

“Ya itu tidak mungkin?! Aku tahu pasti.”

“Aku juga tahu itu.”

“Memgapa kau masih berharap sampai saat ini?” Aku benar-benar marah besar saat bertemu denganmu. Kaueperti orang bodoh dengan mata kosong. Duduk sendirian di tepi waduk. Untung saja hanya duduk.

Kau hanya menggeleng menanggapi pertanyaanku.

“Tidak” kau berucap lirih kemudian mengigit bibir. Angin sore membawa amis tanah bekas air surut. Aroma lumut kering.

“Jelas-jelas kau masih menunggunya pulang.”

“Tidak ada hal lain yang bisa kulakukan selain menunggunya. Kau sangat memahami itu! Kau lebih memahamiku dari pada siapa pun. Aku harap kau mengerti.”

“Justru karena aku mengerti, ka kubiarkan kau seperti ini. Ayolah…” aku berusaha menarik lengan sweatermu. Memaksamu untuk lepas dari masa lalu. Air waduk oranye gemerlapan memantulkan sinar mata hari yang separuh tenggelam. Alam sudah mulai berpesta, jangkrik-jangkrik memulai paduan suaranya dari balik semak dan rerumputan.

“Ayolah, kau harus kembali.” Aku berusaha sekuat tenaga menarikmu turun. Tapi kau tetap diam.

“Sebentar lagi. Setelah mata hari hilang dari depan mata. Saat gelap aku takkan mampu melihat semua kenangan.”

Aku menyerah. Kemudian duduk bersila di sampingmu. Kau tampak kedinginan. Matamu sempurna memantulkan cahaya oranye kemerahan. Penuh harap pada malam yang segera datang.

Sekarang kegelapan sudah sempurna menyelubung daratan. Danau sudah jadi pekat. Aku menuntunmu untuk kembali.

“Kau harus menyadarkan diri dari imajinasi. Bangun dan kembalilah pada kenyataan.”

[]