Posts on Twitter:

தமிழகத்தில் 71.90 சதவீத வாக்குப்பதிவு… அதிகாரப்பூர்வ அறிவிப்பு! ,










Alte 92 de noi pentru tineri vor fi realizate de - Agenția Națională pentru Locuințe în (jud. Timiș), (jud. Constanța) și (jud. Giurgiu):
















Detalhe do abajur Galileu neste projeto do @gabrielfernandesarch ...







Mini purses 👜 are the cutest…, make great charms for a bracelet or key chain, even a zipper pull or purse ornament : ) more designs and link to store coming stay tuned!




¡Sin despeinarse! ¡Así de arrollador fue la victoria 5-0 del frente a "D" por la 1 de la ! Próxima Fecha: Se enfrentaran en condición de visitante a DAOM el 23 de Marzo que viene de empatar 1-1 ante Liceo Naval "B"










Our master bedroom closeup celebrates the intermix of old and new. And the fragrant flowers, cut fresh from our client’s garden on an April morning, remind us that spring is around the corner. Have a beautiful weekend, my friends!


















Retweet Retweeted Like Liked
Show this thread
Posts on Tumblr:

Spring meeting

Father & I (Part I : Ayah tahu yang terbaik)

Sampai sekarang, kalau aku dihadapkan pada beberapa pilihan, pendapat Ayah memegang andil yang sangatttt besar dalam penentuan keputusanku. Why? Ada beberapa kenangan sewaktu aku kecil tentang betapa baiknya pilihan Ayah untukku.

Masa itu, aku sepertinya masih 6 atau 7 tahun. Lagi cengeng-cengengnya, tapi banyak maunya. Nah, aku yang cengeng ini waktu itu suka sekali nonton kartun-kartun, terlebih kartun Disney. Karena senang, setiap kali Ayah pergi ke kota, aku selalu minta dibelikan kaset kartun.

Anggaplah aku ini anak kecil yang cukup feminim. Kartun kesukaannya yang ada putri atau perinya. Nah, tepat sebelum kejadian ini, kartun kesukaanku itu Pinocchio, karena perinya cantik banget. Dan tentu saja yang membelikan aku kasetnya adalah Ayah. Kaset kartun Pinocchio yang cover CDnya ada ibu peri cantik jelita bergaun biru muda.

Jadi ceritanya, masa itu lagi trend-trendnya CD player. Akhirnya, kakekku (Papanya Mama) yang kupanggil Papa Tua juga membeli CD player. Papa Tua nggak paham nih, caranya memasang CD player. Akhirnya ditelponlah Ayahku untuk memasang CD Player itu. Permintaan Papa Tua yang pada akhirnya membuat kami bertiga (aku, Ayah dan Mama) liburan ke kampung Mama. Waktu itu Ayah berangkat belakangan karena masih ada kerjaan (seingatku). Jadilah aku dan Mama berangkat duluan, dan tak lupa aku minta dibelikan kaset kartun. Karena kalau mau ke tempat Papa Tua, harus melewati kota.

Satu ada dua malam aku menginap di rumah Papa Tua dengan harapan bisa menonton kartun Princess atau peri. Lalu pas Ayahku datang, ditunjukkanlah kaset kartun yang ia belikan. Ternyata covernya jelek! Gambarnya monster singa yang seram begitu. Monsternya pegangan tangan sama perempuan yg matanya lebar banget. Wah, aku masih ingat betul tantrum yang aku keluarkan waktu itu. Aku nangis sejadi-jadinya. Dari yang suaranya kenceng banget sampai nggak keluar suara. Kasur kuberantakin. Bantal guling kutendang-tendang. Dan tahu apa yang dilakukan Ayahku? Ia nggak menunjukkan wajah marah dan malah membujukku dengan berkata, “Ini kartunnya bagus. Nonton saja dulu.” Aku masih menangis, “Nggak! Itu kartun jelek. Monster!” Waktu itu aku kecewa berat. Aku yang enam tahun merasa sedih karena penantian dua hari terbuang sia-sia. “Masa sih Ayah nggak tau kartun kesukaanku. Kenapa sih yang dibelikan kartun beginian,” kayaknya aku berpikir seperti itu. Sampai aku capek menangis hingga akhirnya berhenti, Ayah nggak capek-capek untuk membujukku. Hingga akhirnya aku luluh dan menontonnya.

Dan VOILLAAA!

Kartun itu jadi kartun favoritku sepanjang masa! Bahkan waktu beberapa bulan yang lalu, film live actionnya rilis, aku sampai menangis gembira dan haru. Sampai sekarang, aku masih menyimpan kasetnya baik-baik. Kalau liburan kerumah, sering kutonton ulang. Tokoh utama kartun ini yang akhirnya jadi motivasiku untuk punya perpustakaan buku. Yak, memang, kaset kartun yang waktu itu dibelikan ayahku adalah “Beauty and The Beast”. The most epic princess movie from Disney!

Itu salah satu kejadian yang membuatku sadar sampai sekarang. Ayah tahu betul anaknya ini seperti apa. Ayah nggak pernah berniat membuat anaknya kecewa. Jadilah pasti pertimbangan yang ia berikan ke aku itu balik lagi buat kebaikanku sendiri.

Setiap kali aku ragu sama pilihan Ayah, kenangan ini pasti terlintas. Menyadarkanku kalau Ayah selalu ingin yang terbaik untukku. Kalaupun pilihan itu nantinya penuh lika-liku, Ayah akan tetap ada untuk memberikan sepenuh hati dan tenaganya untuk si anak yang cengeng ini. Kalaupun pilihannya terasa berat seperi melihat gambar Beast di covet kaset, dengan usaha lebih dan keberanian mencoba, barangkali aku bisa dapat happy ending seperti kisah Belle dan kekasih rupawannya.

Siapa yang Bicara?

Pernah dengar kata-kata bijak, “Jangan lihat siapa yang berkata, tapi dengarkan apa yang ia katakan.”?

Sekarang, menelan bulat-bulat kalimat itu ibarat memakan makanan enak tanpa peduli bahannya apa. Apa iya, kamu tetap mau makan siomay enak di warung A saat kamu tahu yang jualan menggunakan daging tikus sebagai campuran bahannya. Nggak mau, kan?

Menyaring makanan yang dimakan berdasarkan komposisinya, sama halnya seperti menyaring informasi yang masuk berdasarkan si pemberi info. Jangan bangga bisa tahu dan berkoar-koar tentang banyak hal kalau semua hanyalah kabar burung, lebih fatal lagi kalau kabar itu salah. Lantas, bagaimana caranya menyaring informasi saat menyebar berita semudah meng-klik tombol share di facebook?

Lihat sumbernya. Lihat siapa penulisnya. Lalu lihat tulisannya, sudah kredibelkah si-”dia” menuliskan hal-hal itu. Maksudnya, kalau ada orang yang menuliskan tentang kebijakan ekonominya Amerika, pastikanlah ia memang bersinggungan dengan ekonomi makro/mikro. Bukannya orang yang mengurus ekonomi sendiri saja belum mampu. Kalau ada juga orang yang menuliskan resep memasak, pastikan si penulis memang bisa/paham caranya memasak. Bukannya orang yang belum bisa membedakan mana merica mana ketumbar.

Kalau ada yang bilang, “Ini kan zamannya semua orang bebas mengeluarkan opini,” maka sebagai penerima informasi, kita juga berhak mendapatkan dan mempercayai informasi yang benar. Jangan hanya karena jumlah like dan share, kita jadi ikut meyakini hal yang salah. Lebih-lebih karena terpengaruh kalimat-kalimat di kolom komentar yang entah siapa penulisnya. Jangan sampai hanya karena ikut-ikutan, kita lebih meyakini perkataan seorang pedangdut tentang penemuan fosil dibandingkan perkataan arkeolog sendiri. Bukannya saya tidak menghormati opini seorang pedangdut, tapi pengetahuan seorang arkeolog di dunia fosil hampir bisa dipastikan lebih tinggi daripada pelantun lagu dangdut. Hal yang sama juga berlaku dalam kontes dangdut, alih-alih mengundang arkeolog sebagai dewan juri, tentu saja orang-orang seperti Umi Elvi Sukaesih yang berhak berkomentar. Ya, intinya semua ada posisinya masing-masing. Kita sebagai penerima berita dituntut untuk mengerti dimana posisi si penulis/pembuat berita. Hal ini wajib dilakukan sebelum akhirnya kita memilih untuk setuju atau bahkan membagikan berita tersebut ke orang-orang.

Susah, ya?

Ya, memang susah. Seperti petuahnya Uncle Ben ke Spiderman, “With great power comes great responsibility,” kekuatan media sosial harus bisa dimanfaatkan dengan bijak.

.

.

Oh ya, aku ini siapa?

youtube

(via https://www.youtube.com/watch?v=u9kJIppjH34)